Terima Kasih Ibu

Kasih sayang anak sepanjang jalan. Kasih sayang Ibu sepanjang zaman. -anonim-

Ini kisah 23 tahun yang lalu, saat seorang calon Ibu pertama kali mengandung anak pertamanya. Dokter yang merawatnya mengatakan anaknya kemungkinan besar seorang perempuan. sang calon Ibu bahagia dan merawat kandungannya dengan baik, sang dokter memberikan beberapa suplemen dan vitamin. tak berapa lama, kulit sang calon Ibu mengelupas dan terasa panas, kondisi tubuhnya juga semakin tidak fit. ada dugaan, suplemen yang diberikan dokter tersebut tidak cocok ataupun kadaluarsa. ada dugaan sedikit malpraktik. sang calon Ibu hanya berdoa dan berdoa semoga janin dalam perutnya selamat. itu saja. 27 Juni 1988 lahirlah sang anak, seorang perempuan dan oleh sang Ayah diberi nama Nabila Firdausi yang dalam bahasa Arab berarti “Kemuliaan Surga”. Ya, itu saya.

Semasa kecil, saya bertubuh kurus dan sedikit ringkih. saya pendiam dan pemalu. suatu kejadian terjadi saat usia saya menginjak 6 tahun, saya semakin kurus. saya ingat sebelum saya operasi, siang hari itu di kamar, saya tanya sama Ibu,

saya : “Bu, apa di operasi itu sakit?”

Ibu : “kan dibius, kamu tidak akan merasakan apa-apa, kamu nanti tidur.”

saya : “apa nanti aku bisa mati?”

Ibu : “husss, dokter bilang kamu pasti sembuh kog, sudah, tenang saja!”

saya yang masih kecil itu tidak tahu sama sekali bahwa operasi saya itu memiliki tingkat kesembuhan besar dan tidak ada yang meninggal karena gagal operasi itu, yah biasalah mungkin saya kebanyakan nonton telenovela 😀 hehe.. yang pasti mendengar jawaban Ibu saat itu saya menjadi tenang, saya ga akan mati cepat, saya punya banyak cita-cita! setelah operasi itu selesai, saya sehat, saya selamat! hoho.. namun saya tidak boleh melakukan aktivitas-aktivitas berat maupun olahraga berat karena kesehatan fisik saya menjadi berbeda.

sepanjang yang saya ingat, saya sudah berurusan dengan bermacam dokter, laboratorium dan rumah sakit. yah semoga saja nanti saya berjodoh dengan dokter, hahahhaaa… dan sepanjang yang saya ingat, saya selalu didampingi oleh Ibu saya. Ayah juga tapi yang paling sering Ibu saya. Ibu saya selalu bilang, diberi sakit itu cobaan dari Allah SWT agar saya kuat dan selalu bersyukur dan itu wujud cinta Allah SWT pada saya. saya sih mengamini saja. alhamdulillah sampai sekarang saya sehat, dan buktinya bisa mengetik artikel ini dengan lancar 😀

banyak yang bilang wajah saya mirip dengan wajah Ibu saya, kecuali alis saya. yang lebih aneh sekarang malah keluarga besar saya bilang saya mirip tante saya.

Ibu saya sangat baik dan sabar. Ibu saya seorang hafidzah, beliau hafal Al-Qur’an 30 juz diluar kepala. sudah pasti tempat Ibu saya nanti di surga. Ibu saya sangat pandai memasak, tetangga-tetangga saya saja terkadang memesan masakan pada Ibu. Ibu saya sangat sehat, tidak pernah sakit parah alhamdulillah walau sekarang keluhannya biasanya berkutat pada sakit di sendi lututnya. Ibu saya lah yang mengajari kelima putrinya mengaji dan dari kami kecil selalu mengajari pelajaran di sekolah dan membantu dalam mengerjakan PR. Ibu sayalah yang tahu benar semua karakter anak-anaknya. Ibu tidak pernah menyuruh, Ibu mencontohkan. Ibu tidak pernah memukul, Ibu mengingatkan. Ibu tidak pernah berkata jelek, Ibu memberi semangat. Ibu sangat pandai mengatur keuangan, Ibu mengajarkan untuk berhemat. Ibu selalu tersenyum, Ibu tidak pernah menangis di depan anak-anaknya kecuali saat Lebaran. Ibu selalu ada saat kami pulang dari sekolah/kampus, Ibu menyambut kami di rumah dengan sapaan. Ibu selalu bersabar, walaupun saya geregetan. Ibu memberi tahu kami banyak hal, bahkan, segala hal. Saya dan adik-adik sangat beruntung memiliki Ibu yang memilih menjadi seorang Ibu Rumah Tangga. kami tidak pernah kekurangan kasih sayang, selalu ada Ibu yang menunggu di rumah saat kami pulang, selalu ada Ibu yang menunggu kami pulang ke rumah hingga malam.

Sewaktu SMA, saya dan sahabat saya, Listy membuat hadiah di hari Ibu. kami membawa pensil warna ke sekolah. saya melukis Ibu saya dan berpuisi, Listy pun membuat puisi dan menghiasinya dengan gambar. sepulang sekolah kami membeli kue-kue di toko kue Rin di depan sekolah dan pulang. saat saya memberinya pada Ibu saya, Ibu sangat terharu. Ibu hanya memakan satu kue, yang lain dimakan adik-adik. namun lukisan saya itu langsung di-laminasi oleh Ibu dan disimpannya didalam lemarinya. sampai detik ini lukisan saya itu masih ada.

Ibu pernah bercerita bahwa Ibu pernah menangis saat nama saya disebut sebagai peraih NEM tertinggi di SD saya dan Ibu harus maju ke depan berpidato, Ibu bilang “bangga” pada saya. saya bertekad akan membahagiakan Ibu, Ayah dan keempat adik-adik saya. dan dalam waktu dekat saya akan membuat Ibu saya menangis bahagia lagi pada saya, yaitu saat saya diwisuda nanti. amin. Terimakasih Ibu, tiada kata dan benda yang bisa membalas semua jasa dan cinta kasihmu, saya sangat mencintaimu, Ibu.. 🙂