Emosi

Saat ini, detik ini, di malam ini, saya sedang emosi.

“Hanya dirimu sendiri yang bisa mengetahui dan merasakan saat emosi memuncak, kepalamu sedikit pusing dan tanganmu menggenggam mengepal. saat tidak kuasa lagi, dari kedua bola matamu mengalir air mata yang terasa panas menuruni pipi. deru nafasmu tidak teratur dan kau tahu dengan kesadaran penuh bahwa kau sedang menangis penuh kemarahan.”

Seperti kata orang bijak, “don’t judge a book by it’s cover” itu juga berlaku menjadi “don’t predict people’s action by their motion” … secara jujur saya sedang marah pada seseorang. mungkin orang itu berbeda, mungkin dia orang yang sangat sensitif dan pendendam. mungkin kata bahagia adalah ucapan palsu baginya. mungkin dia tidak pernah mempercayai orang lain. yah, mungkin.

Ini jadi pelajaran berarti secara pribadi bagi saya yang cenderung naif dan menganggap setiap orang itu “baik” atau “biasa” atau “tidak ada yang berbeda” atau “tidak memerlukan perbedaan perlakuan”. saat saya yang terbiasa menjadi bahan gurauan dan mampu mengatasinya kemudian saya mencoba menjadikan seseorang bahan gurauan dan ternyata orang itu tidak bisa mengatasinya (yang saya kira semua orang bisa). pada titik itulah saya salah.

Terlebih saya juga cenderung tidak pernah menyimpan dendam pada siapapun. jadi di pikiran saya terbersit “tidak ada orang juga yg dendam pada saya” dan itu salah besar. orang ini yang saya singgung dari awal, mengingat dengan jelas dan merekam setiap kesalahan saya dan kemudian menumpuk menjadi dendam tanpa saya pribadi menyadarinya. creepy, right?

Jadi saat terjadi sesuatu hal yang membuat saya sangat terkejut dan marah, saya menjadi sangat aware. bagaimana ya? sampai pada akhirnya saya konfirmasi langsung dengan orang bersangkutan dan dia menyatakan itu ulahnya untuk membalas saya. dia dendam. hingga pada level paling sepele (bagi saya), itu sudah dicatat sebagai kesalahan baginya.

Saya sampai berteriak dalam hati,

GILA LU, kalau lu tersinggung atau marah sampaikan pada saat itu juga dong, marah ya marah langsung dong, kenapa kudu disimpan dalam-dalam berujung dendam hingga tiba saatnya pembalasan? kalau mau menegur ya tegur langsung dong, kenapa sebegitu ditutupi hingga membuncah menjadi amarah tak terarah?

Yah mungkin setiap kepribadian orang sangat unik, saya tidak bisa mengharapkan input yang sama keluarnya dengan output yang sama kan? lagi-lagi ini merupakan kecerobohan saya dalam menilai seseorang. baiklah, saya emosi, dia emosi, dan pada akhirnya saya meminta maaf duluan dan bilang “aku janji ga akan ganggu hidupmu lagi oke”.

Dan secara jujur bagi saya itu berarti “you are no longer my friend, and it will remain forever” ..  tentu saja saya tidak akan mendendam lagi karena bagi saya semuanya kembali ke titik nol. tapi sepertinya momen ini akan menjadi momen pertama dalam hidup saya untuk men-delete suatu pertemanan. adios!

(Ditulis setelah sekian lama saya tidak mem-posting tulisan apapun, saat ini kondisinya saya sedang pendidikan setelah diterima bekerja di salah satu BUMN terbaik Indonesia. saya yang lama hidup di Surabaya, hijrah ke Jakarta. sebagai satu-satunya lulusan almamater yang diterima, praktis saya sendirian memulai masa depan saya yang baru setelah lulus kuliah dan diwisuda.)